Monumen Macan Putih di Kediri Viral, Bentuk Patung Picu Pro dan Kontra Warganet

KEDIRI JurnalisIndepemden.co.id Monumen Macan Putih yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak viral di media sosial. Patung yang awalnya dirancang sebagai ikon desa itu menuai beragam tanggapan karena bentuknya dinilai tidak sepenuhnya menyerupai sosok macan putih.

Sejak foto dan video monumen tersebut beredar luas di berbagai platform media sosial, warganet ramai-ramai memberikan komentar. Sebagian menilai patung tersebut unik dan menghibur, sementara lainnya mengkritik hasil visualnya yang dianggap jauh dari ekspektasi. Tak sedikit pula yang menyamakan bentuk patung dengan hewan lain, sehingga memunculkan perdebatan ringan dan candaan di ruang digital.

Viralnya monumen ini membuat Desa Balongjeruk semakin dikenal publik. Patung yang terletak di pertigaan Jalan Raya Kunjang–Badas itu kini kerap menjadi objek perhatian pengguna jalan dan warga sekitar. Banyak masyarakat yang berhenti sejenak untuk melihat, memotret, hingga mengunggahnya ke media sosial.

Menanggapi ramainya perbincangan, Pemerintah Desa Balongjeruk memberikan klarifikasi terkait sumber pendanaan pembangunan monumen tersebut. Pemerintah desa menegaskan bahwa Patung Macan Putih tidak dibangun menggunakan dana desa. Seluruh biaya pembangunan berasal dari dana pribadi Kepala Desa Balongjeruk, Safii.

Total anggaran yang digunakan untuk pembuatan monumen tersebut mencapai sekitar Rp3,5 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk jasa pembuatan patung sebesar Rp2 juta dan pembelian material senilai Rp1,5 juta. Dengan keterbatasan anggaran, proses pengerjaan patung dilakukan secara sederhana sesuai kemampuan teknis pembuatnya.

Pemilihan Macan Putih sebagai ikon desa didasarkan pada nilai historis dan kepercayaan masyarakat setempat. Berdasarkan cerita turun-temurun, Macan Putih diyakini sebagai simbol penjaga desa dan memiliki keterkaitan dengan proses pembukaan wilayah Balongjeruk pada masa lalu. Filosofi tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk monumen di ruang publik.

Meski demikian, pemerintah desa mengakui bahwa hasil akhir patung belum sepenuhnya sesuai dengan konsep awal. Pemerintah desa menyatakan terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat serta berencana melakukan penyempurnaan agar monumen tersebut lebih merepresentasikan sosok Macan Putih.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, fenomena Monumen Macan Putih Balongjeruk menunjukkan bagaimana sebuah karya di ruang publik dapat menarik perhatian luas. Dengan anggaran terbatas, monumen tersebut justru mampu mengangkat nama desa dan menjadi perbincangan publik di tingkat nasional.

(Red)

Exit mobile version