GUNUNGKIDUL (DIY) | jurnalisindependen.co.id — Mertelu sedang didorong untuk bergerak. Di bawah kepemimpinan Lurah Nurhidayat Agustina, pemerintah kalurahan mencoba mengubah wajah pelayanan publik dari pola konvensional menuju pelayanan yang lebih cepat, terbuka dan dekat dengan warga.
Slogan “Mertelu Bergerak, Melayani Tanpa Batas” kini diuji bukan lewat kata-kata, melainkan melalui sejumlah inovasi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Pertanyaannya sederhana: sejauh mana gebrakan tersebut benar-benar mampu mengubah pelayanan dan meningkatkan kesejahteraan warga Mertelu?
Pelayanan Tak Lagi Terpaku Jam Kantor
Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah pengembangan pelayanan berbasis digital melalui E-Migit dan LaporLur.
Kanal tersebut dirancang memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan, informasi maupun pengaduan tanpa harus selalu datang ke kantor kalurahan.
Konsep pelayanan 24/7 menjadi sinyal bahwa pemerintahan desa dituntut mengikuti perubahan zaman. Teknologi tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi mulai ditempatkan sebagai instrumen untuk memperpendek jarak antara pemerintah dan masyarakat.
Namun, digitalisasi juga memiliki pekerjaan rumah: memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses dan memanfaatkannya.
Sebab, ukuran keberhasilan teknologi pelayanan bukan hanya pada keberadaan aplikasinya, tetapi pada seberapa cepat laporan ditindaklanjuti dan seberapa nyata solusi diberikan kepada warga.
Nurhidayat Turun ke Warga, Bukan Hanya di Balik Meja
Pendekatan pemerintahan Mertelu juga diarahkan melalui Sambel Wellut — Sambang Warga Lurah Mertelu.
Program ini menjadi ruang bagi Nurhidayat untuk mendengar persoalan masyarakat secara langsung.
Di titik inilah kepemimpinan seorang lurah diuji. Sebab persoalan warga sering kali tidak seluruhnya terlihat dalam laporan administratif.
Dengan turun langsung, pemerintah kalurahan memiliki kesempatan membaca persoalan dari sisi yang berbeda: kebutuhan warga, hambatan pelayanan hingga potensi yang selama ini belum tergarap maksimal.
Audiensi dan survei masyarakat kemudian menjadi bagian dari upaya mendapatkan masukan sekaligus mengevaluasi pelayanan pemerintahan.
Dari Mobil Siaga hingga Dokumen Kependudukan
Pelayanan dasar juga menjadi bagian yang terus didorong.
Mobil Siaga 01 diposisikan untuk membantu akses masyarakat menuju fasilitas kesehatan, sementara Armada Siaga 02 mendukung kebutuhan kegiatan masyarakat.
Di bidang administrasi kependudukan, inovasi Tanduk Rusa dan Akta Kematian Cepat diarahkan untuk memangkas proses dan memberikan kemudahan kepada masyarakat.
Pesannya jelas: pelayanan pemerintahan tidak boleh membuat masyarakat berputar-putar hanya untuk mendapatkan hak administratifnya.
Ekonomi Warga: Jangan Sampai Potensi Hanya Jadi Potensi
Yang tak kalah menarik adalah arah pembangunan ekonomi.
Mertelu memiliki sejumlah potensi yang mulai didorong untuk dikembangkan, mulai dari Smart Green House, perikanan sistem RAS, rencana pengembangan pabrik pakan ternak, hingga produk lokal keripik Banana Bliss.
Program tersebut menunjukkan adanya upaya menggeser orientasi pembangunan dari sekadar pembangunan fisik menuju penguatan ekonomi produktif masyarakat.
Tetapi lagi-lagi, tantangannya bukan pada banyaknya nama program.
Apakah program mampu menciptakan nilai ekonomi? Apakah membuka peluang usaha? Apakah meningkatkan pendapatan warga? Dan apakah mampu bertahan dalam jangka panjang?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang pada akhirnya akan menentukan apakah agenda penguatan ekonomi Mertelu benar-benar berhasil atau hanya berhenti sebagai daftar program pemerintah.
Mertelu Bergerak, Kini Saatnya Membuktikan
Deretan inovasi tersebut memperlihatkan arah kepemimpinan Nurhidayat Agustina yang mencoba menempatkan pelayanan publik, kedekatan dengan masyarakat dan pengembangan ekonomi sebagai satu kesatuan.
Namun publik tentu tidak cukup hanya disuguhi program.
Program harus menghasilkan perubahan.
Pelayanan digital harus benar-benar responsif. Sambang warga harus melahirkan solusi. Armada pelayanan harus memberikan manfaat. Sementara pengembangan ekonomi harus mampu membuka peluang nyata bagi masyarakat.
Di sinilah slogan “Mertelu Bergerak, Melayani Tanpa Batas” memperoleh ujian sebenarnya.
Jika seluruh inovasi mampu dijalankan secara konsisten, transparan dan tepat sasaran, Mertelu berpeluang menunjukkan bahwa pemerintahan kalurahan juga dapat bertransformasi menjadi lebih modern, responsif dan berorientasi pada kebutuhan warga.
Namun jika tidak dikawal dengan evaluasi dan keterbukaan, inovasi sebanyak apa pun akan kehilangan makna.
Kini bola berada di tangan Nurhidayat Agustina: membawa Mertelu benar-benar bergerak, atau membiarkan berbagai gagasan berhenti sebagai slogan.
Penulis: Arfian.
Editor: Redaktur.
