WUJUD SYUKUR KEPADA SANG HYANG WIDI, MASYARAKAT PADUKUHAN SAMBENG I GELAR TRADISI SAKRAL RASULAN

foto;istimewa.(@arf_)

GUNUNGKIDUL (DIY) | JurnalisIndependen.co.id – Rasulan atau juga biasa disebut Syukuran merupakan adat kebudayaan yang sakral dan tetap dilestarikan masyarakat Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Salah satunya rasulan yang digelar oleh Padukuhan Sambeng l, Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Ngawen, Gunungkidul, D.I.Yogyakarta. Rabu (27/8/2025) siang.

Tujuan utama dari tradisi Rasulan sendiri adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah. Selain itu, tradisi ini juga sebagai bentuk doa atau permohonan agar warga masyarakat terhindar dari segala musibah dan mara bahaya.

Diketahui, dari 1 (satu) padukuhan terdiri atas 5 (lima) RT (rukun tetangga) dalam pelaksanaan serangkaian perayaan Rasulan dimulai dari Minggu (24/8/2025) hingga Rabu (27/8/2025).

Dari ke 5 (lima) RT tersebut mengeluarkan shodaqohan masing-masing. Shodaqohan berupa ingkung, hasil bumi, nasi, lauk pauk, dan buah-buahan yang dirangkai menjadi satu untuk dijadikan sebuah gunungan. Selanjutnya, beberapa gunungan tersebut diarak (dikirabkan) dari perempatan Sambeng l menuju ke kediaman Dukuh Sambeng l Wagiyana untuk dilakukan kenduri serta didoakan sesuai adat tradisi yang sudah berjalan.

Wagiyana, Dukuh Sambeng l mengatakan, bahwa tradisi rasulan yang digelar di Padukuhan Sambeng l merupakan tradisi adat yang sudah terjaga dalam 10 tahun ini. Sebagai bentuk rasa syukur para petani dan warga kepada sang hyang widi serta wujud syukur kepada Ibu Pertiwi (bumi) yang telah memberikan tanah yang subur untuk para petani menebar benih dan membuahkan hasil panen yang bagus.

“Tradisi adat rasul Padukuhan ini sudah berjalan dari tahun 2015 hingga saat ini. Alhamdullilah warga sadar dan selalu melestarikan disetiap tahunnya, walaupun, dulu juga sempat ada beberapa konflik pemikiran terhadap tradisi adat rasulan dari berbagai tokoh masyarakat namun, saat ini sudah kompak untuk bersama dijaga dan dilestarikan sebagai wujud rasa syukur,” ucap Wagiyana kepada reporter jurnalisindependen.co.id.

Disisi lain, Paryati Lurah Sambirejo mengatakan, dari acara pembukaan sampai puncak acara ini terlaksana karena peran aktif seluruh masyarakat dengan kegigihan dan kegotong royongan, sehingga bisa tercapai apa yang menjadi cita-cita pendahulu kita yaitu nguri uri warisan leluhur yang hadi luhung.

“Dengan tradisi rasulan juga akan dijadikan momentum untuk berkumpul bersama keluarga dan silaturahmi dengan orang-orang terdekat,” ujar Paryati.

Tradisi rasulan banyak menimbulkan dampak positif yang dapat kita ambil, sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya kita lestarikan budaya nenek moyang kita. Sebagai bangsa Indonesia yang mempunyai banyak kebudayaan daerah yang harus patut kita syukuri dan bangga terhadap bangsa Indonesia terutama suku jawa.

Lebih lanjut, dalam puncak acara nanti akan dipentaskan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Suroso dari Kalurahan Tegalrejo, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul.

(Red/Arfian)

Exit mobile version