Sentuhan Hati di Kediri, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi Menjadi Cahaya Harapan bagi Dua Anak Kurang Beruntung

KEDIRI JurnalisImdependen.co.id Di tengah dunia yang kerap bergerak cepat dan individualistis, masih ada sosok yang memilih berjalan berlawanan arah: berhenti sejenak, menoleh, dan mengulurkan tangan kepada mereka yang tertinggal. Sosok itu adalah Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi, pengusaha nasional sekaligus Ketua Umum Pertiwi Nusantara Bersatu, yang kembali menunjukkan bahwa kepedulian bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang berkelanjutan.

Dengan ketulusan hati dan tanpa hingar bingar seremonial, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi hadir di Kediri untuk menjalankan peran mulia sebagai ibu asuh bagi dua anak yang sejak kecil harus berdamai dengan keterbatasan hidup. Dua anak tersebut adalah Sika Ayu Ardani, yang kehilangan kedua orang tuanya sejak usia belia, serta Mohammad Fikri Alfarisy, yang tumbuh dalam kondisi ekonomi serba terbatas bersama sang ayah.

Bagi Sika, kehilangan orang tua bukan hanya tentang duka, tetapi juga tentang rasa aman yang terenggut. Sementara bagi Fikri, keterbatasan ekonomi kerap menjadi tembok besar yang menghalangi langkah dan mimpi. Namun hari-hari yang dahulu dipenuhi kecemasan perlahan berubah, sejak hadirnya sosok yang memberi kepastian, perhatian, dan harapan akan masa depan.

Tidak berhenti pada bantuan materi, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi membangun komitmen jangka panjang dengan memastikan kebutuhan dasar kedua anak terpenuhi secara menyeluruh. Mulai dari pemenuhan gizi, kesehatan, kebutuhan harian, hingga jaminan pendidikan yang layak dan berkelanjutan, bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Pendampingan moral dan pembentukan karakter juga menjadi bagian penting dari perhatian yang diberikan.

Dalam keterangannya kepada media, Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi menegaskan bahwa anak-anak adalah aset masa depan bangsa yang harus dirawat dengan penuh tanggung jawab. Ia meyakini bahwa kepedulian terhadap generasi muda merupakan bentuk investasi sosial paling berharga.

“Anak-anak ini tidak butuh dikasihani, mereka butuh dikuatkan. Jika diberi kesempatan dan kepercayaan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar figur penolong, kehadiran ibu asuh menghadirkan rasa aman dan keyakinan baru bagi kedua anak tersebut. Mereka tidak lagi berjalan sendiri menghadapi kerasnya kehidupan. Ada tangan yang menuntun, telinga yang mendengar, dan hati yang memahami.

Sika Ayu Ardani mengaku hidupnya kini terasa lebih tenang dan terarah. Dukungan yang diterimanya membuat ia berani menatap masa depan dengan optimisme. Ia bertekad belajar dengan sungguh-sungguh dan membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya tidak akan sia-sia.

Sementara itu, Mohammad Fikri Alfarisy merasakan perubahan besar dalam semangat hidupnya. Perhatian dan pendampingan yang diterima menjadi pemantik untuk meraih cita-cita dan suatu hari nanti berdiri sebagai pribadi mandiri yang mampu membantu orang lain.

Langkah yang dilakukan Hj. Raden Ayu Sri Setyo Pertiwi menjadi bukti bahwa kepedulian sosial sejati lahir dari konsistensi dan keikhlasan. Di Kediri, dua anak kini melangkah dengan keyakinan baru—bahwa masa depan bukan lagi sekadar harapan samar, melainkan jalan yang mulai terbuka berkat sentuhan hati dan kasih sayang yang tulus.

Di tengah banyaknya wacana tentang kepedulian sosial, tindakan nyata seperti inilah yang memberi makna sesungguhnya. Satu kepedulian, ketika dilakukan dengan sepenuh hati, mampu mengubah arah hidup dan menyalakan cahaya bagi generasi penerus bangsa.(Dody)

Exit mobile version