Berita  

Negarawan atau Anak TK, Publik Sidoarjo Menilai Sendiri



‎Sidoarjo, jurnalisindependen. co. Id
‎Sidoarjo tampaknya tak hanya terkenal dengan lumpur Lapindo, kini juga memiliki “lumpur ego” di pucuk kepemimpinan, Islah yang dinanti publik antara Bupati Sidoarjo H. Subandi dan Wakil Bupati Mimik Indayana tak kunjung terwujud, Alih alih berdamai demi rakyat, keduanya justru memperagakan drama dingin yang membuat masyarakat mengelus dada dan sebagian lagi mengelus emosi.

‎Forum Aliansi Laskar Jenggolo pun akhirnya kehilangan kesabaran, ancaman melapor ke Menteri Dalam Negeri hingga Presiden RI mengemuka saat hearing dengan DPRD Sidoarjo, seolah memberi sinyal bahwa konflik ini sudah tak lagi bisa diselesaikan di level lokal. Jika dua pimpinan daerah saja tak mampu duduk satu meja, publik bertanya tanya siapa sebenarnya yang mengemudikan kapal bernama Sidoarjo



‎Kegeraman rakyat tumpah dalam aksi demonstrasi berjudul Tabayun untuk Bupati dan Wakil Bupati di depan Gedung DPRD Sidoarjo, Selasa (10/2/2026). Sugeng, perwakilan Ormas KORAK (Koalisi Rakyat Anti Korupsi), dengan lantang melontarkan kalimat yang langsung menyengat telinga para elit.

‎“Kalau Bupati dan Wakilnya tidak akur, apa harus kita Patikan saja” ucap Sugeng, di tengah orasi yang lebih jujur daripada pidato seremonial.

‎Kalimat tersebut sontak menjadi simbol kemuakan publik terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai lebih mirip pertengkaran anak TK berebut mainan ketimbang negarawan mengurus daerah. Rakyat menilai, konflik ini bukan lagi soal perbedaan visi, melainkan adu gengsi yang tak berkesudahan.

‎DPRD sebagai lembaga legislatif pun didesak menjalankan fungsinya, bukan sekadar menjadi penonton VIP drama politik. Tuntutan agar DPRD memanggil kedua pucuk pimpinan untuk rekonsiliasi damai menguat. Namun, jika damai tak juga tercapai, wacana pemakzulan mulai beredar bebas di ruang publik dari warung kopi hingga media sosial.

‎Ironisnya, di tengah kebutuhan masyarakat akan stabilitas dan kerja nyata, yang dipertontonkan justru tarik ulur ego, Sidoarjo seperti dipimpin oleh dua matahari yang sama ingin bersinar, namun lupa bahwa terlalu banyak panas justru bisa membakar.

‎Publik kini menunggu, apakah akan lahir kebijaksanaan, atau justru episode lanjutan dari sinetron politik berjudul “Aku Tak Butuh Wakil, Kamu Tak Butuh Bupati”.

‎Satu hal yang pasti, kesabaran rakyat ada batasnya, dan saat batas itu dilewati, kursi empuk pun bisa ikut goyang.(red)

Exit mobile version