
Pasuruan – Jurnalisindependen.co.id | Bulan Syawal selalu hadir sebagai momentum istimewa bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Tidak hanya menjadi waktu untuk merayakan Idulfitri, Syawal juga diwarnai dengan tradisi khas Nusantara yang terus hidup di tengah masyarakat, salah satunya adalah Lebaran Ketupat atau “kupatan”.
Di berbagai daerah di Indonesia, perayaan Lebaran Ketupat umumnya digelar sekitar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini kerap beriringan dengan pelaksanaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal, yang diyakini memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam.
Namun, di balik kemeriahan kupatan—dengan hidangan ketupat, opor, dan kebersamaan warga—tersimpan jejak panjang akulturasi budaya. Sejumlah kalangan menilai bahwa tradisi kupatan bukan murni berasal dari ajaran Islam, melainkan merupakan hasil perpaduan dengan budaya Hindu-Buddha yang telah lebih dulu berkembang di Nusantara, Selasa (24/3/2026).
Ketupat sendiri kerap dimaknai secara simbolik. Dalam perspektif budaya Jawa, “kupat” diartikan sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan, selaras dengan semangat saling memaafkan pasca-Idulfitri.
Tradisi ini kemudian diperkuat oleh peran para ulama, terutama dalam proses Islamisasi Jawa, yang mengadaptasi budaya lokal agar selaras dengan nilai-nilai Islam.
Di sisi lain, pelaksanaan puasa enam hari di bulan Syawal tetap menjadi bagian penting dari praktik keagamaan umat Islam.
Ibadah ini bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW dan memiliki landasan kuat dalam syariat, berbeda dengan kupatan yang lebih bersifat kultural.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya. Tradisi seperti Lebaran Ketupat menjadi contoh nyata bagaimana agama dan budaya saling berinteraksi, membentuk identitas yang unik dan khas.
Di tengah dinamika tersebut, masyarakat dihadapkan pada pilihan: memaknai kupatan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang mempererat silaturahmi, atau menempatkannya secara tegas sebagai tradisi yang berada di luar ranah ibadah.
Yang jelas, bulan Syawal bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang refleksi—antara menjaga kemurnian ajaran dan merawat kearifan lokal yang telah mengakar selama berabad-abad.
Penulis (Ga)