SIDOARJO JurnalisIndependen.co.id Sejarah besar sering kali lahir dari perjalanan panjang yang tidak mudah. Ia tumbuh dari pengabdian, ditempa oleh pengalaman, dan diuji oleh waktu. Begitulah perjalanan H. Rizza Ali Faizin, M.Pd.I, sosok yang kini resmi dipercaya memimpin Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Sidoarjo periode 2026–2031.
Bagi sebagian orang, terpilihnya Rizza Ali Faizin mungkin hanya dipandang sebagai pergantian kepemimpinan partai. Namun bagi banyak kader Nahdliyin, aktivis pergerakan, tokoh masyarakat, dan warga akar rumput, momentum ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ini adalah kisah tentang seorang kader yang tumbuh dari bawah, berjalan bersama rakyat, dan mengabdikan dirinya melalui berbagai medan perjuangan sebelum akhirnya dipercaya memegang nahkoda partai terbesar di Kabupaten Sidoarjo.
Keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB yang menetapkan Rizza Ali Faizin sebagai Ketua DPC PKB Sidoarjo bukanlah keputusan yang lahir dalam semalam. Amanah besar tersebut melalui proses panjang, selektif, dan penuh pertimbangan. Berbagai tahapan mulai dari fit and proper test, pendalaman visi dan misi, tes psikologi, wawancara hingga penelusuran rekam jejak kepemimpinan dilakukan untuk memastikan bahwa sosok yang terpilih benar-benar memiliki kapasitas, integritas, dan komitmen terhadap perjuangan partai serta kepentingan masyarakat.
Dari seluruh proses itu, satu nama akhirnya mengemuka. Nama yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat, akrab dengan kalangan ulama, serta memiliki pengalaman panjang dalam organisasi dan politik: H. Rizza Ali Faizin.
Perjalanan hidupnya bukanlah perjalanan yang dibangun oleh popularitas sesaat. Ia ditempa dalam tradisi kaderisasi Nahdlatul Ulama yang mengajarkan arti pengabdian tanpa pamrih. Dari organisasi pelajar IPNU, kemudian berproses di Gerakan Pemuda Ansor, hingga dipercaya menjadi Kasatkorwil Banser Jawa Timur, Rizza telah melewati berbagai fase perjuangan yang membentuk karakter kepemimpinannya.
Di jalan pengabdian itulah ia belajar tentang arti menjaga persatuan, melayani umat, menguatkan solidaritas, dan berdiri bersama masyarakat dalam berbagai situasi.
Mereka yang mengenalnya memahami bahwa perjalanan Rizza bukan sekadar perjalanan organisasi. Ia adalah perjalanan tentang kesetiaan terhadap nilai-nilai perjuangan, tentang konsistensi menjaga hubungan dengan masyarakat, dan tentang keyakinan bahwa politik harus menjadi jalan pengabdian, bukan sekadar alat meraih kekuasaan.
Ketika kemudian masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya untuk duduk di DPRD Kabupaten Sidoarjo, Rizza tetap memilih berada dekat dengan rakyat. Sebagai Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sidoarjo, ia dikenal aktif menyerap aspirasi masyarakat, menjembatani berbagai persoalan warga, serta memperjuangkan kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
Kini, perjalanan panjang itu membawanya pada amanah yang lebih besar.Di tengah dinamika politik yang semakin kompleks, tantangan pembangunan yang semakin beragam, serta harapan masyarakat yang terus bertambah, Rizza Ali Faizin dipercaya menjadi pemimpin baru PKB Sidoarjo.
Amanah tersebut bukan sekadar jabatan politik. Amanah itu adalah kepercayaan ribuan kader, harapan para ulama, semangat para pemuda, dan doa masyarakat yang mendambakan hadirnya politik yang lebih bermakna dan lebih berpihak kepada rakyat.
Terpilihnya Rizza juga menjadi simbol penting regenerasi kepemimpinan di tubuh PKB Sidoarjo. Sebuah regenerasi yang tidak memutus mata rantai perjuangan, melainkan melanjutkannya dengan energi baru, semangat baru, dan visi baru untuk menghadapi masa depan.
Harapan masyarakat kini tertumpu pada kepemimpinan yang mampu merawat persatuan kader, memperkuat kaderisasi, menjaga kedekatan dengan ulama dan masyarakat, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi warga Kabupaten Sidoarjo.
Dalam pidato perdananya setelah menerima amanah tersebut, Rizza Ali Faizin menyampaikan pesan yang mencerminkan kerendahan hati seorang kader yang memahami makna perjuangan.
Ini bukan kemenangan pribadi. Ini adalah amanah besar yang harus kita jalankan bersama. PKB harus semakin hadir di tengah masyarakat, mendengarkan suara rakyat, memperjuangkan kepentingan umat, dan menjadi bagian dari solusi atas setiap persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar rangkaian kata-kata politik. Bagi banyak kader dan simpatisan, kalimat tersebut menjadi penegasan bahwa kepemimpinan PKB Sidoarjo ke depan akan dibangun di atas fondasi pengabdian, kebersamaan, dan keberpihakan kepada rakyat.
Karena sejatinya, masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir ketika mereka menghadapi kesulitan, yang mendengar ketika mereka menyampaikan harapan, dan yang berjuang ketika mereka membutuhkan keadilan.
Dari lorong-lorong kaderisasi Ansor, dari barisan pengabdian Banser, dari ruang-ruang rapat legislatif, hingga kini memimpin partai besar di Kabupaten Sidoarjo, perjalanan Rizza Ali Faizin adalah kisah tentang ketekunan, kesetiaan, dan pengabdian yang tidak pernah berhenti.Kini sebuah babak baru telah dimulai.Di pundaknya terletak harapan ribuan kader. Di tangannya tergenggam amanah besar untuk menjaga marwah perjuangan partai. Dan di hadapannya terbentang tugas mulia untuk memastikan bahwa PKB tetap menjadi rumah perjuangan rakyat kecil, rumah harapan kaum muda, serta rumah pengabdian bagi seluruh masyarakat Kabupaten Sidoarjo.
Perjalanan panjang telah mengantarkannya menuju kursi kepemimpinan. Namun bagi H. Rizza Ali Faizin, M.Pd.I, sesungguhnya perjuangan yang paling besar justru baru saja dimulai.(Din)

