Berita  

“Cinta Saat Berlimpah, Hilang Saat Susah: Ketika Rumah Tangga Diuji Keikhlasan”

Pasuruan, Jurnalisindependen.co.id – Dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri seharusnya saling mendukung dan saling mendoakan. Dalam falsafah Jawa dikenal istilah garwo sigare nyowo, yang berarti pasangan adalah separuh jiwa. Sebuah ikatan yang tidak hanya dibangun atas dasar cinta, tetapi juga komitmen untuk berjalan bersama dalam keadaan apa pun, Senin April (27/4/2026).

Namun realitas yang terjadi di masyarakat sering kali bertolak belakang. Kesetiaan yang digembar-gemborkan saat keadaan berkecukupan, mendadak pudar ketika ujian datang. Saat rezeki mengalir, kemesraan terlihat begitu nyata. Tapi ketika kondisi berubah—serba kekurangan, penuh tekanan—cinta yang dulu dielu-elukan justru menghilang tanpa jejak.

Kesetiaan sejatinya bukan sekadar bertahan dalam kenyamanan, melainkan kemampuan untuk tetap saling menguatkan di tengah kesulitan. Saling mendoakan bukan hanya formalitas, tetapi fondasi yang menghidupkan harapan dan membuka jalan keberkahan.

Ironisnya, muncul stigma yang begitu tajam di tengah masyarakat: “ada uang disayang, gak ada uang ditendang.” Kalimat ini bukan sekadar sindiran, melainkan cerminan pahit dari sebagian realitas rumah tangga saat ini. Cinta yang seharusnya tulus berubah menjadi transaksional—diukur dari materi, bukan dari ketulusan hati.

Fenomena ini patut menjadi kritik keras. Jika cinta hanya bertahan saat kondisi mapan, maka yang dipertahankan sejatinya bukan hubungan, melainkan kenyamanan. Ketika kesulitan datang dan kasih sayang ikut memudar, di situlah terlihat bahwa fondasi rumah tangga tersebut rapuh sejak awal.

Rumah tangga bukan panggung sandiwara yang hanya indah saat lampu terang. Ia adalah perjalanan panjang yang penuh ujian. Dan hanya mereka yang benar-benar memahami makna garwo sigare nyowo yang mampu bertahan—bukan karena harta, tetapi karena hati yang tetap memilih untuk setia, dalam suka maupun duka. (@Ga)

Exit mobile version