Jurnalisindependen.co.id |
Pasuruan – Cara seseorang berbicara bukan sekadar persoalan gaya. Ia adalah cermin kecerdasan, wibawa, sekaligus daya pengaruh. Sejumlah kajian komunikasi yang berkembang di lingkungan akademik seperti Stanford University menyoroti bagaimana persepsi publik terhadap kecerdasan dan kepemimpinan kerap dibentuk oleh cara penyampaian, bukan semata isi pesan, Jum’at (13/2/2026).
Dalam berbagai studi komunikasi sosial, ditemukan bahwa struktur kalimat yang tegas, pilihan kata yang presisi, serta intonasi yang stabil meningkatkan persepsi kompetensi di mata pendengar. Sebaliknya, penggunaan kata-kata ragu seperti “mungkin”, “sekadar”, “cuma”, atau terlalu sering meminta maaf tanpa alasan jelas, dapat menurunkan kesan otoritatif.
Perspektif Pakar Komunikasi
Pakar komunikasi sosial dari Stanford Graduate School of Business, Deborah Tannen (dikenal luas dalam kajian bahasa dan gender), dalam berbagai publikasinya menekankan bahwa bahasa bukan hanya alat menyampaikan informasi, tetapi juga alat membangun posisi sosial. Cara seseorang merangkai kalimat menentukan bagaimana ia ditempatkan dalam struktur percakapan: sebagai pemimpin diskusi atau sekadar pengikut.
Sementara itu, psikolog sosial Amy Cuddy dari Harvard Business School dalam kajian tentang kepercayaan diri dan bahasa tubuh menegaskan bahwa persepsi kekuatan tidak hanya lahir dari gestur, tetapi juga dari narasi verbal yang lugas dan penuh keyakinan.
Temuan ini menguatkan satu hal: wibawa bisa dibangun melalui disiplin berbahasa.
Bahasa adalah Investasi Sosial
Dalam dunia kerja, ruang publik, hingga organisasi kemasyarakatan, mereka yang mampu menyampaikan gagasan dengan jelas lebih cepat dipercaya. Bahkan individu dengan latar belakang sederhana dapat tampil menonjol jika mampu mengemas pikirannya secara runtut dan tegas.
Bahasa yang kuat bukan berarti keras.
Bahasa yang berpengaruh bukan berarti berlebihan.
Justru kalimat sederhana yang langsung pada inti sering kali lebih menggugah.
Contoh:
Alih-alih berkata,
“Maaf kalau pendapat saya kurang tepat, tapi mungkin kita bisa mempertimbangkan ini…”
Lebih efektif mengatakan,
“Saya merekomendasikan opsi ini karena memiliki dampak paling efisien.”
Perubahan kecil pada diksi menghasilkan dampak besar pada persepsi.
Prinsip Praktis Meningkatkan Kepercayaan Diri
Untuk tampil lebih percaya diri dan dihargai, beberapa prinsip sederhana dapat diterapkan:
Hindari kata pelemah posisi diri.
Gunakan kalimat aktif dan langsung pada tujuan.
Susun pikiran sebelum berbicara.
Batasi pengulangan yang tidak perlu.
Tegaskan penutup setiap pernyataan.
Kepercayaan diri bukan bawaan lahir. Ia adalah keterampilan yang diasah melalui kesadaran berbahasa.
Motivasi untuk Berani Tampil
Di tengah persaingan yang semakin terbuka, kemampuan komunikasi adalah modal sosial yang tak ternilai. Tidak semua orang memiliki privilese pendidikan tinggi atau jaringan luas. Namun setiap orang memiliki akses pada satu hal yang sama: pilihan kata.
Jika ingin dihargai, mulailah dari cara berbicara.
Jika ingin dipercaya, latih kejelasan berpikir.
Jika ingin memimpin, bangun wibawa melalui bahasa.
Karena pada akhirnya, orang mungkin lupa latar belakang kita.
Namun mereka akan selalu ingat bagaimana kita membuat mereka merasa—melalui kata-kata yang kita pilih.
Penulis:(Ga)
(Tim/Red)
