
SURABAYA, – Partai Nasionalis Nusantara (PNN) resmi mendeklarasikan keberadaannya di Kampung Peneleh Gang VII, Surabaya, Kamis (1/10/2026). Deklarasi yang berlangsung di kawasan bersejarah Rumah Pergerakan H.O.S. Tjokroaminoto tersebut berjalan khidmat dan diwarnai semangat persatuan serta kebangsaan.
Deklarasi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB itu digelar di depan rumah H.O.S. Tjokroaminoto, salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Rumah di Jalan Peneleh Gang VII No. 29–31 tersebut bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi pernah menjadi ruang tumbuhnya gagasan dan perdebatan politik para tokoh muda pada masa pergerakan.
Rumah Pergerakan dan Jejak Guru Bangsa
Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto dikenal sebagai salah satu tokoh sentral pergerakan nasional dan pemimpin Sarekat Islam. Kediamannya di Peneleh, Surabaya, menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan bertemunya berbagai gagasan tentang masa depan bangsa di tengah situasi kolonial.
Rumah tersebut juga dikenal sebagai tempat kos sejumlah pemuda yang kelak memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia. Di antaranya Soekarno, Semaoen, Alimin, Musso, dan Kartosoewirjo.

Di rumah inilah Soekarno muda, ketika masih menempuh pendidikan di Surabaya, bersentuhan langsung dengan lingkungan politik dan pemikiran pergerakan. Rumah Tjokroaminoto bahkan digambarkan dalam sejumlah kajian sejarah sebagai salah satu pusat aktivitas Sarekat Islam di Surabaya. Berbagai tokoh datang dan berdiskusi di tempat tersebut, sementara persoalan masyarakat akibat tekanan pemerintahan kolonial juga dibawa ke lingkungan rumah Tjokroaminoto.
Tjokroaminoto tidak hanya dikenal sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai pendidik politik bagi generasi muda. Dari lingkungan Peneleh itu, berbagai pemikiran tentang nasionalisme, Islam, sosialisme, pergerakan rakyat, hingga masa depan bangsa berkembang melalui diskusi dan pergaulan intelektual.
Sejarah tersebut membuat rumah Tjokroaminoto memiliki posisi khusus dalam perjalanan bangsa. Sejumlah kajian menyebut para penghuni rumah tersebut kemudian berkembang dengan pemikiran dan jalan perjuangan yang berbeda-beda. Jejak pendidikan politik Tjokroaminoto turut memberi pengaruh terhadap tokoh-tokoh muda yang kelak memainkan peran dalam sejarah Indonesia.
Rumah di Peneleh tersebut kini dikenal sebagai salah satu situs bersejarah Kota Surabaya dan telah menjadi museum. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa gagasan kebangsaan tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui proses panjang pendidikan, diskusi, organisasi, dan perjuangan.
Karena itu, deklarasi PNN di kawasan tersebut membawa dimensi simbolik tersendiri. Peneleh bukan hanya latar tempat berlangsungnya sebuah acara politik, tetapi juga ruang yang menyimpan jejak sejarah pergerakan dan pendidikan politik generasi awal bangsa.
Deklarasi di Tengah Momentum Hari Kesaktian Pancasila
Momentum deklarasi PNN berlangsung bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Suasana historis kawasan Peneleh semakin memberi warna tersendiri terhadap kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus, kader, serta sejumlah unsur masyarakat dan perangkat pemerintahan setempat.
PNN dipimpin Teten Indra Abdillah sebagai Ketua Umum dan Menur Soekarno sebagai Sekretaris Jenderal, bersama jajaran Tim 7.
Partai tersebut mengusung nilai perjuangan yang dirumuskan dalam semangat berakhlak, nasionalis, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Sejumlah unsur masyarakat dan perangkat pemerintahan setempat turut hadir menyaksikan jalannya deklarasi. Di antaranya Ketua RW 04, Ketua RT 02, serta unsur ketenteraman dan ketertiban (Trantib) Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng.
Pengamanan kegiatan juga dilakukan jajaran Polsek Genteng dan Polrestabes Surabaya guna memastikan seluruh rangkaian deklarasi berjalan tertib dan kondusif.
Cak Bram: Deklarasi Bukan Sekadar Seremoni
Sementara itu, Ketua DPW PNN Provinsi Jawa Timur, Cak Bram, saat memberikan keterangan kepada wartawan di sela-sela kegiatan, menyampaikan bahwa deklarasi di Peneleh memiliki arti penting bagi perjalanan PNN, khususnya dalam membangun konsolidasi organisasi di Jawa Timur.
Menurut Cak Bram, pemilihan kawasan Peneleh sebagai lokasi deklarasi memiliki makna historis karena kawasan tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang pergerakan kebangsaan Indonesia.
Cak Bram menegaskan, DPW PNN Provinsi Jawa Timur akan memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi, serta komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
“Bagi kami, deklarasi ini bukan sekadar seremoni. Ini menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen membangun organisasi yang berlandaskan nilai kebangsaan, persatuan, keadilan, dan kemakmuran,” ujar Cak Bram saat diwawancarai wartawan.
Ia menambahkan, keberadaan PNN di Jawa Timur akan diarahkan pada penguatan kader dan kerja organisasi yang berkesinambungan, dengan tetap menjadikan nilai persatuan dan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dari perjuangan partai.
Meneguhkan Politik Kebangsaan
Dalam orasinya, Ketua Umum PNN Teten Indra Abdillah menegaskan bahwa partai yang dipimpinnya ingin membangun kekuatan politik yang berpijak pada nilai kebangsaan, akhlak, persatuan nasional, kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran rakyat.
Menurut Teten, PNN tidak hanya hendak menjadi partai politik, tetapi juga membangun kekuatan kader yang memiliki kapasitas dan keberdayaan untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
“Kita ingin membangun partai kader dan nasionalis. Kader yang berdaya harus mampu memberdayakan masyarakat dan rakyat Indonesia,” tegas Teten.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan politik dan ekonomi.
“Politik dan ekonomi harus berjalan beriringan sehingga tidak timpang dan berjalan bersama menuju Indonesia yang maju, adil, dan makmur,” tandasnya.
Menyatukan Gagasan Soekarno dan Hatta
Dalam narasi perjuangannya, PNN menempatkan nilai politik kebangsaan yang dikaitkan dengan pemikiran Ir. Soekarno serta gagasan ekonomi kerakyatan Drs. Mohammad Hatta sebagai dua gagasan yang ingin disinergikan dalam membangun kehidupan bernegara.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari narasi PNN untuk membangun politik yang tidak hanya berbicara mengenai kekuasaan, tetapi juga menyentuh persoalan pemberdayaan masyarakat dan kepentingan rakyat.
Sebagai partai yang relatif baru, PNN mulai memperkenalkan identitas dan arah perjuangannya kepada masyarakat. Dalam proses konsolidasi tersebut, partai ini juga mulai dikenal dengan sebutan “Partai Banteng Putih.”
Teriknya matahari Kota Surabaya tidak menyurutkan semangat para kader dan pengurus yang mengikuti seluruh rangkaian deklarasi. Semangat kebersamaan tetap terlihat hingga kegiatan berakhir.
Deklarasi kemudian ditutup dengan doa bersama dan pekikan semangat perjuangan:
“MERDEKA!”
Partai Nasionalis Nusantara — Adil-Makmur

