Example 728x250

Susu Kedelai Diduga Basi di Program Makan Gratis Rengel, Warga Desak Evaluasi Total

TUBAN Jurnalis independen.co.id Pelaksanaan program makan dan minum gratis bagi pelajar di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, menuai sorotan setelah ditemukan dugaan susu kedelai tidak layak konsumsi dalam paket yang dibagikan pada Kamis, 26 Februari 2026.

Program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak sekolah tersebut berlangsung di sejumlah sekolah di wilayah Rengel. Paket makanan yang dibagikan terdiri dari piscok (pisang cokelat), telur rebus, dan sebotol susu kedelai.

Awalnya para siswa menyambut pembagian tersebut dengan antusias. Namun situasi berubah ketika beberapa botol susu kedelai dibuka. Sejumlah siswa dan pihak sekolah mencium aroma asam yang tidak biasa. Susu diduga telah mengalami perubahan bau dan rasa, sehingga dikhawatirkan tidak layak dikonsumsi.

Salah satu saksi di lokasi menyebut cairan susu kedelai tersebut berbau menyengat dan tidak seperti biasanya. Kekhawatiran muncul karena minuman tersebut diperuntukkan bagi anak-anak.

Peristiwa ini memicu perhatian warga sekitar. Mereka mempertanyakan proses penyimpanan, distribusi, serta pengawasan mutu makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pengelola dapur penyedia terkait penyebab dugaan susu basi tersebut.

Warga berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program makan gratis di wilayah Rengel agar kejadian serupa tidak terulang. Mereka juga meminta pengawasan lebih ketat terhadap standar kebersihan, kualitas bahan pangan, serta prosedur distribusi.

Kepala Desa Mundir menyayangkan adanya dugaan kelalaian dalam penyajian makanan dan minuman bagi anak-anak sekolah. Ia berharap pihak pengelola dan yayasan yang terlibat dapat meningkatkan kehati-hatian serta memperkuat pengawasan, termasuk peran tenaga ahli gizi dalam memastikan kualitas makanan sebelum didistribusikan.

Masyarakat menekankan bahwa program makan gratis merupakan inisiatif positif yang perlu didukung bersama, namun pelaksanaannya harus mengutamakan keamanan dan kesehatan para siswa sebagai prioritas utama.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *