Jurnalisindependen.co.id |
Di tengah arus modernisasi dan semangat emansipasi, banyak rumah tangga hari ini menghadapi krisis yang tidak selalu terlihat di permukaan. Media sosial penuh dengan potret kebahagiaan, tetapi angka perceraian terus meningkat. Pertanyaannya: apa yang sebenarnya hilang?
Dalam ajaran Islam, rumah tangga dibangun di atas fondasi sakinah, mawaddah, dan rahmah sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 21. Namun realitas modern sering kali memperlihatkan hal berbeda — ego lebih dikedepankan daripada empati, gengsi lebih diutamakan daripada komunikasi, Minggu (15/2/2026).
Ketika Kepemimpinan Dipertanyakan, Adab Ditinggalkan
Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 34 menyebut laki-laki sebagai qawwam (pemimpin) dalam keluarga. Makna kepemimpinan ini bukan dominasi, tetapi tanggung jawab: menafkahi, melindungi, membimbing.
Namun di era sekarang, konsep ini kerap dipertentangkan secara ekstrem. Ada yang menafsirkannya sebagai legitimasi otoritarianisme. Ada pula yang menolaknya mentah-mentah atas nama kesetaraan. Akibatnya, bukan keseimbangan yang lahir, melainkan tarik-menarik kuasa.
Istri keluar rumah tanpa komunikasi. Suami merasa tak dihargai. Suami lalai tanggung jawab, istri kehilangan hormat. Lingkaran konflik pun tak terhindarkan.
Padahal dalam hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi Muhammad SAW mengajarkan pentingnya menjaga harmoni, saling menghormati, dan menjalankan peran masing-masing dengan penuh kesadaran spiritual.
Emansipasi Bukan Alasan Menghapus Etika
Kesetaraan bukan berarti meniadakan adab. Izin bukan simbol perendahan, tetapi komunikasi dan penghormatan. Kepemimpinan bukan simbol superioritas, melainkan beban tanggung jawab.
Fenomena rumah tangga modern sering kali terjebak pada pola “siapa paling benar” dan “siapa paling dominan.” Padahal yang seharusnya diperjuangkan adalah bagaimana keduanya bisa saling melindungi.
Ridho suami dalam perkara yang ma’ruf adalah bagian dari etika rumah tangga. Begitu pula suami wajib berlaku adil, lembut, dan tidak sewenang-wenang. Ketaatan dalam Islam tidak pernah membenarkan penindasan.
Humanisme dalam Bingkai Syariat
Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang sunyi konflik, melainkan yang mampu menyelesaikan konflik tanpa saling merendahkan.
Suami boleh jatuh secara ekonomi, tetapi tidak boleh jatuh dalam tanggung jawab. Istri boleh memiliki karier dan ruang publik, tetapi tidak boleh kehilangan adab dan komunikasi. Keduanya bukan pesaing, melainkan partner menuju ridho Allah SWT.
Jika ego terus dipelihara, rumah tangga akan rapuh meski tampak mapan. Namun jika welas asih, saling menghargai, dan komunikasi menjadi prioritas, maka sakinah bukan sekadar istilah religius, melainkan kenyataan yang hidup di dalam rumah.
Pada akhirnya, pertarungan dalam rumah tangga bukan tentang siapa menang. Yang sesungguhnya diuji adalah siapa yang lebih dulu mau merendahkan ego demi menjaga amanah pernikahan.
Penulis:(Ga)
(Tim/Red)

