Example 728x250
Berita  

Hidup Penuh Liku, Antara Doa, Perjuangan, Kesabaran, dan Makna Kehidupan

Jurnalisindependen.co.id

Pasuruan – Perjalanan hidup manusia tidak pernah terlepas dari berbagai lika-liku, ujian, dan dinamika yang terus berganti. Setiap individu pasti mengalami fase senang, bahagia, berhasil, sekaligus fase sulit, terpuruk, dan penuh keterbatasan. Realitas ini menjadi gambaran bahwa kehidupan bukan sekadar rangkaian keberhasilan, melainkan proses panjang yang menuntut keteguhan mental, kedewasaan berpikir, dan kekuatan hati. Senin (26/12026).

Dalam menghadapi berbagai tekanan hidup, ketenangan menjadi modal utama yang sering diabaikan. Banyak orang memilih terburu-buru dalam mengambil keputusan, larut dalam emosi, bahkan menyerah ketika dihadapkan pada kegagalan. Padahal, sikap tenang dan sabar justru menjadi fondasi untuk bangkit dan memperbaiki keadaan. Usaha yang dilakukan tanpa ketenangan sering berujung pada kelelahan batin dan kehilangan arah.

Di tengah persaingan hidup yang semakin ketat, tidak sedikit orang terjebak dalam ambisi berlebihan. Mereka mengejar status, harta, dan pengakuan sosial, hingga mengorbankan kesehatan, keluarga, dan ketentraman jiwa. Ironisnya, ketika semua itu telah diraih, kebahagiaan yang diharapkan justru tidak selalu hadir. Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan materi tanpa keseimbangan batin tidak menjamin ketenteraman hidup.

Menikmati hidup bukan berarti hidup tanpa target dan tanggung jawab. Sebaliknya, menikmati hidup adalah kemampuan untuk mensyukuri setiap proses, menerima keterbatasan, serta memaknai setiap kegagalan sebagai pembelajaran. Hidup yang dijalani dengan kesadaran dan rasa syukur akan melahirkan ketahanan mental dalam menghadapi berbagai persoalan.

Kesadaran untuk menikmati hidup perlu ditanamkan sejak dini. Sebab, waktu terus berjalan tanpa menunggu kesiapan manusia. Ketika usia bertambah, kesehatan menurun, atau kesempatan mulai terbatas, barulah sebagian orang menyadari bahwa hidup telah terlewat tanpa makna yang mendalam. Penyesalan sering muncul karena terlalu sibuk mengejar masa depan, tetapi lupa menjalani hari ini dengan sepenuh hati.

Oleh karena itu, keseimbangan antara usaha, doa, kesabaran, dan rasa syukur menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan. Setiap individu dituntut untuk terus berjuang, tanpa kehilangan nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Dengan sikap tersebut, hidup yang penuh liku dapat dijalani dengan lebih bijaksana, bermartabat, dan bermakna, hingga akhir perjalanan kehidupan.

(Red/Gus Atim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *