Example 728x250
Berita  

Rumahku Bukan Istana, Tapi Di Sanalah Surgaku: Tempat Lelah Gugur, Air Mata Luruh, dan Cinta Tumbuh Setiap Hari

Jurnalisindependen.co.id |
Pasuruan – Rumahku bukan bangunan megah bertingkat.
Tak ada pagar tinggi, tak ada lantai marmer mengilap.
Namun di sanalah aku menemukan surga yang sesungguhnya.

Dalam kehidupan rumah tangga, masalah adalah keniscayaan. Tak ada keluarga yang benar-benar steril dari persoalan. Perbedaan pendapat, tekanan ekonomi, rasa lelah setelah bekerja, bahkan kesalahpahaman kecil—semuanya datang silih berganti. Namun justru di tengah badai itulah kedewasaan diuji dan cinta dipertaruhkan, Kamis (12/2/2026).

Rumah tangga bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, tetapi siapa yang paling luas hatinya. Bukan tentang siapa yang menang dalam perdebatan, melainkan siapa yang rela mengalah demi keutuhan.

Sering kali kita terjebak pada ukuran materi. Mengira kebahagiaan lahir dari luasnya bangunan dan mahalnya perabotan. Padahal kebahagiaan sejati justru tumbuh dari hal-hal sederhana: sapaan hangat saat pulang kerja, tawa anak-anak yang memecah sunyi, serta doa yang lirih terucap di sudut ruang.

Betapa nikmatnya ketika tubuh pulang dalam keadaan letih, keringat masih menempel, pikiran penuh beban pekerjaan—lalu disambut dengan suasana adem ayem, tentram, dan damai. Di rumah itulah lelah gugur. Di sana air mata diam-diam luruh, berganti rasa syukur.

Rumah sederhana yang dihuni dengan rukun jauh lebih berharga daripada istana yang penuh pertengkaran. Karena damai bukan soal kemewahan, tetapi soal hati yang saling menjaga.

Keluarga adalah tempat kita belajar arti sabar, arti tanggung jawab, dan arti menerima kekurangan satu sama lain. Di sanalah karakter ditempa, ego dilunakkan, dan cinta dirawat setiap hari—meski kadang dengan cara yang tidak mudah.

Rumahku mungkin kecil di mata dunia.
Namun besar nilainya di hatiku.
Di situlah aku kembali menjadi manusia seutuhnya.
Di situlah aku menemukan ketenangan setelah hiruk pikuk kehidupan.

Karena pada akhirnya, surga itu bukan tentang kemewahan.
Surga itu tentang rasa.
Dan bagiku, rasa itu selalu ada ketika aku pulang ke rumah.

Penulis:(Ga)
(Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *