
SURABAYA JurnalisIndependen.co.id Semangat antikorupsi membara di jantung Kota Surabaya ketika ribuan massa dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur memadati berbagai ruas jalan protokol pada Rabu (10/12/2025). Aksi damai yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Antikorupsi Sedunia ini menjadi salah satu gerakan publik terbesar yang pernah digelar MAKI Jatim, menghadirkan gelombang seruan agar pemerintah memperkuat transparansi dan menegakkan hukum tanpa toleransi terhadap praktik korupsi.
Sejak pagi hari, iring-iringan massa dari berbagai penjuru Jawa Timur berdatangan ke pusat kota. Mereka datang membawa spanduk besar berisi tuntutan moral, poster kecaman terhadap para pelaku korupsi, hingga stiker edukatif yang dibagikan kepada masyarakat umum. Suasana Surabaya pun berubah menjadi panggung perjuangan, memperlihatkan solidaritas luas masyarakat dalam memperjuangkan pemerintahan yang bersih dan berintegritas.

Heru Satriyo Pimpin Langsung Gelombang Massa
Koordinator Wilayah MAKI Jatim, Heru Satriyo, tampil sebagai tokoh sentral dalam aksi tersebut. Sejak pukul 07.00 WIB ia terlihat berada di garis depan, memimpin peserta aksi menuju tiga titik strategis: Kantor Diskominfo Jatim, Polda Jatim, dan Kejaksaan Tinggi Jatim.
Ketiga titik ini menjadi simbol penting dalam siklus pemberantasan korupsi—dari keterbukaan informasi publik, proses penyidikan kepolisian, hingga penuntutan oleh kejaksaan. Heru menyebut pilihan lokasi ini sebagai bentuk tekanan moral agar ketiga institusi tersebut lebih tegas, transparan, dan responsif terhadap laporan dugaan korupsi dari masyarakat.
Orasi Menggema, Massa Serukan Penyelidikan dan Transparansi
Setiap kali rombongan massa tiba di titik aksi, suara orasi mengguncang suasana. Perwakilan peserta secara bergantian menyampaikan tuntutan mereka yang menyoroti perlunya:
percepatan penyelesaian kasus korupsi yang tak kunjung beres,
peningkatan transparansi dalam pengelolaan APBD dan dana hibah,
penguatan sistem pengawasan di instansi pemerintah,
serta penegakan hukum tanpa diskriminasi dan tanpa tebang pilih.
Aksi ini menarik perhatian masyarakat luas. Banyak warga yang berhenti menyimak orasi para aktivis yang disampaikan dengan penuh emosi, mencerminkan keprihatinan bersama atas maraknya korupsi di berbagai sektor pemerintahan.
Aparat Kepolisian Kawal Aksi dengan Humanis
Di tengah aksi besar ini, aparat kepolisian diterjunkan untuk menjaga ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Dengan pendekatan humanis, petugas membantu memastikan bahwa aksi berjalan damai tanpa insiden berarti. Walaupun jumlah massa sangat besar, suasana tetap tertib, menandakan kedewasaan aktivis MAKI Jatim dalam menyampaikan aspirasi.
Kapolrestabes Surabaya bahkan memberikan apresiasi atas kepatuhan massa terhadap aturan dan koordinasi lapangan.
Heru Satriyo: “Korupsi Sudah Jadi Budaya Buruk, Harus Diberantas Tuntas”
Saat sesi wawancara di depan Gedung Kejati, Heru Satriyo mengungkapkan dengan lantang bahwa praktik korupsi di Jawa Timur kian mengkhawatirkan. Ia menegaskan bahwa MAKI Jatim tidak akan pernah berhenti mengungkap kasus-kasus korupsi, terutama yang melibatkan pejabat pemerintah daerah.
“Kami akan terus bersuara lantang membongkar kasus-kasus korupsi di lingkungan Pemprov Jatim, terutama di OPD,” tegas Heru.
Ia menyoroti laporan masyarakat yang terus mengalir terkait dugaan penyimpangan dana hibah, dana operasional pemerintahan, hingga indikasi korupsi dana BOS. Menurut Heru, lembaga seperti KPK, kejaksaan, dan kepolisian harus lebih serius dan konsisten dalam memproses setiap laporan tersebut.
“Penegak hukum harus fokus memberantas korupsi. Keadilan tidak boleh memihak dan harus ditegakkan tanpa pandang bulu,” tambahnya.(Dody)

