Example 728x250

Viral di Medsos “Stop Tot Tot Wuk Wuk” Koordinator Humas Kominfo DIY Angkat Bicara

Reporter : Arfian Adita

Ditya Nanaryo Aji, Koordinator Humas Kominfo DIY.(fto;dok'arf_)

YOGYAKARTA | JurnalisIndependen.co.id – Suara sirene meraung, strobo merah-biru berkelip, dan sebuah mobil mewah melaju mulus di tengah kemacetan. Para pengendara motor dan mobil kecil buru-buru menepi, meski dengan wajah jengkel. Adegan semacam ini begitu akrab di jalanan kota besar Indonesia. Namun di balik bunyinya, sirene tidak hanya sekadar tanda lalu lintas. Ia adalah bahasa kekuasaan yang beroperasi di ruang publik.

Fenomena “Stop Tot Tot Wuk Wuk” sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Aksi ini muncul sebagai bentuk protes warganet terhadap penggunaan sirene dan lampu strobo yang berlebihan di jalan raya.

Banyak masyarakat merasa terganggu karena suara bising serta sikap arogan pengendara yang menggunakannya tanpa alasan darurat. Bahkan, sejumlah warga sampai menempelkan stiker bertuliskan “Stop Tot Tot Wuk Wuk” di kendaraan pribadi mereka sebagai sindiran keras.

Di tengah keresahan publik ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X justru memberikan contoh yang menyejukkan. Baik mobil dinas maupun kendaraan pribadinya, Sultan sama sekali tidak menggunakan strobo. Hal tersebut ditegaskan oleh Ditya Nanaryo Aji, Koordinator Humas Kominfo DIY.

“Beliau (Sultan) memang merasa tidak perlu. Jarak perjalanan sehari-hari dari Keraton Kilen menuju kantor juga dekat, tidak macet, dan jalurnya landai,” jelas Ditya, Jumat (19/9/2025).

Lebih lanjut, Ditya menyampaikan bahwa Sultan dikenal sederhana dan tidak berlebihan dalam memanfaatkan fasilitas negara. Bahkan dalam agenda resmi ke kabupaten maupun kota, Sultan kerap kali hadir tanpa pengawalan ketat. “Jarang sekali beliau menggunakan fasilitas pengawalan, meskipun agenda bersifat kedinasan,” tambahnya.

Sikap ini menjadi kontras dengan fenomena yang marak, di mana banyak pejabat maupun pemilik mobil pribadi justru kerap menggunakan strobo secara sembarangan. Masyarakat menilai teladan Sultan membuktikan bahwa jabatan tinggi tidak harus identik dengan sikap arogan di jalan raya.

(Red/Arfian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *